Dandim 0415/Jambi Dampingi Danrem 042/Gapu Tinjau Opla Cegah Stunting, Babinsa Dampingi petugas Kesehatan Berikan Layanan Posyandu Sertu Agus Sukma Jaya, Babinsa Koramil 415-09/Telanaipura didaulat menjadi juri pada kegiatan WDC Oknum Yang Mengaku TNI Kawal BBM Ilegal Diamankan,Ternyata Gadungan Temukan Jarum Suntik, Klip Bungkus Narkoba, Hingga Korek Api, Satu Rumah Diduga Basecamp Dihancurkan Tim Gabungan Polda Jambi

Home / Berita / Religi

Rabu, 11 Agustus 2021 - 10:30 WIB

Hijrah Bukan Berarti Fisik Saja, Melainkan Ada Makna Iman di Dalamnya

KH. M Cholil Nafiz

KH. M Cholil Nafiz

PublishNews.id – Tahun baru Islam 1443 Hijriyah merupakan momentum spesial bagi umat Islam. Tahun Baru Islam sangat spesial karena menandakan momentun hijrahnya Nabi Muhammad Saw dari Makkah ke Madinah pada 622 Masehi.

Tidak hanya itu, tahun baru Hijriyah juga menjadi awal penanggalan kalender Islam. Hijrah artinya pindah dari satu tempat ke tempat lain. Hal inilah yang dilakukan Rasul Saw saat hijrah dari Makkah ke Madinah.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Dakwah dan Ukhuwah, KH M. Cholil Nafis, menceritakan perjuangan Nabi Muhammad dalam hijrah bersama kaum Muslim dari Makkah ke Madinah.

Kiai Cholil menjelaskan makna hijrah yang dilakukan Nabi Muhammad tidak hanya berarti fisik semata, melainkan ada makna iman di dalamnya.

“Pada masa awal Islam itu berkembang, umat Muslim mengalami berbagai tekanan dari kaum kafir Quraisy di Makkah sehingga akhirnya turun perintah Allah untuk hijrah ke Madinah,” tutur Kiai Cholil seperti dilansir situs resmi MUI, mui.or.id, dikutip Rabu, 11 Agustus 2021.

Kala itu, cerita Kiai Cholil, mereka yang beriman pada Muhammad sebagai Rasul Allah melanjutkan hijrahnya ke Madinah sebagai perwujudan mempertahan kan keimanannya.

Baca Juga...  Dewi Perssik Minta Saipul Jamil Tetap Percaya Diri usai Bebas dari Penjara

Makna penting dari peristiwa hijrah Nabi Muhammad harus dimaknai umat Muslim saat ini sebagai upaya perubahan diri dari jalan kemaksiatan menuju ketaatan pada Allah SWT.

“Namun sekarang hijrah bukan lagi bermakna seperti itu, karena Makkah sendiri bukan lagi darul kufr melainkan sudah ada darul Islam. Oleh sebab itu, hijrah yang sekarang lebih ke arah perubahan diri dari kemaksiatan menuju ketaatan,” demikian Kiai Cholil menjelaskan.

Lebih lanjut, Kiai Cholil menjerangkan bahwa hijrah di zaman sekarang bisa diartikan sebagai perubahan menuju ke arah yang lebih baik.

Pengasuh Ponpes Cendekia Amanah, Depok, Jawa Barat ini menambahkan, dalam kehidupan sehari-hari, terkadang kita dihadapkan pada peristiwa yang mengharuskan meninggalkan hal yang sangat kita cintai, demi memenuhi perintah Allah SWT.

“Ini mirip dengan momentum Rasul dan kaum Muslim ketika harus meninggalkan kampung tercintanya, yakni kota Makkah. Semangat atau spirit seperti inilah yang patut untuk dijadikan contoh,” ujar Kiai Cholil.

Secara harfiah, hijrah memiliki arti berpindah tempat demi keamanan telah usai, dengan terjadinya Fathu Makkah (pembebasan Mekah). Sebagaimana sabda Nabi: “Tidak ada hijrah lagi, setelah al-Fath”.

Baca Juga...  Warga Tebo Meninggal Dunia Setelah di Pijak Gajah

Ditambahkan kiai asal Madura ini, ada bentuk hijrah yang lain, yang tidak akan usai sampai hari kiamat, bahkan wajib dilaksanakan kita sebagai umat Islam kontemporer. Yaitu hijrah atau meninggalkan dosa dan maksiat.

“Hal yang bisa kita lakukan hijrah menuju keimanan misal dalam hal mencari ilmu, yang tadinya mungkin tidak ingat Allah menjadi ingat Allah atau yang tadinya belum menutup aurat berhijrah untuk menutup auratnya,” ujar Kiai Cholil.

Kiai Cholil menuturkan adapun hijrah dalam pemaknaan hadits adalah hijrah selamanya yang harus umat Islam lakukan. Hijrah bagaikan taubat, selamanya kita harus berubah ke arah kebaikan.

Ditekankan Kiai Cholil, peristiwa hijrahnya Nabi ke Madinah itu antara hidup dan mati, karena dalam perjalanan dari Makkah menuju Madinah terdapat berbagai tantangan dan rintangan yang harus Nabi Muhammad hadapi dan inilah yang harus kita petik hikmahnya.

“Hikmah yang bisa dipetik dari peristiwa hijrahnya Rasul. Pertama, kita harus melakukan spirit perjuangan Nabi. Kedua, solidaritas antara kaum Muhajirin dan Anshar ketika peristiwa hijrah ini patut umat Muslim contoh, dan ketiga mau bersama Rasul dalam menegakkan kebenaran,” pungkas Kiai Cholil.

(Suaraislam.id)

Share :

Baca Juga

Berita

Lakukan Sterilisasi Sambut Malam Pergantian Tahun di Gereja, Ditsamapta Turunkan Anjing Satwa K9

Berita

Pemkab Muaro Jambi Terima Penghargaan Peduli Kekayaan Intelektual

Berita

Truk Batubara Menyebabkan Kemacetan, Ketua DPRD Edi Purwanto Sikapi Pemasalahan Truk Batu Bara , Minta Pemprov Lakukan 3 langkah

Berita

Laksanakan Program Minggu Kasih Polda Jambi, Personel Ditpolairud Polda Jambi Sambangi Pengguna Transportasi Pompong Penyebrangan Ancol Jambi

Berita

Gagal Salip Truk karena Motor Oleng, Siswi SMP di Jambi Tewas Terlindas

Berita

Angkutan Batu Bara Kembali Beroperasi,Ini Kata Kapolda Jambi Irjen Pol Rusdi Hartono

Berita

Direktorat Polda Jambi Kirim Tim Gabungan, Penertiban PETI Di Sarolangun

Berita

Asyik Dikunjungi, Wisata Wahana Kampung Datuk Sajikan Panorama Pohon Cempedak Dan Tiga Kuliner